Ursula K. Le Guin “The Ones Who Walk Away from Omelas”


With a clamor of bells that set the swallows soaring, the Festival of Summer came to the city Omelas, bright-towered by the sea. The rigging of the boats in harbor sparkled with flags. In the streets between houses with red roofs and painted walls, between old moss-grown gardens and under avenues of trees, past great parks and public buildings, processions moved. Some were decorous: old people in long stiff robes of mauve and grey, grave master workmen, quiet, merry women carrying their babies and chatting as they walked. In other streets the music beat faster, a shimmering of gong and tambourine, and the people went dancing, the procession was a dance. Children dodged in and out, their high calls rising like the swallows’ crossing flights, over the music and the singing. All the processions wound towards the north side of the city, where on the great water-meadow called the Green’ Fields boys and girls, naked in the bright air, with mud-stained feet and ankles and long, lithe arms, exercised their restive horses before the race. The horses wore no gear at all but a halter without bit. Their manes were braided with streamers of silver, gold, and green. They flared their nostrils and pranced and boasted to one another; they were vastly excited, the horse being the only animal who has adopted our ceremonies as his own. Far off to the north and west the mountains stood up half encircling Omelas on her bay. The air of morning was so clear that the snow still crowning the Eighteen Peaks burned with white-gold fire across the miles of sunlit air, under the dark blue of the sky. There was just enough wind to make the banners that marked the racecourse snap and flutter now and then. In the silence of the broad green meadows one could hear the music winding through the city streets, farther and nearer and ever approaching, a cheerful faint sweetness of the air that from time to time trembled and gathered together and broke out into the great joyous clanging of the bells.

Joyous! How is one to tell about joy? How describe the citizens of Omelas?
Continue reading “Ursula K. Le Guin “The Ones Who Walk Away from Omelas””

2014 in review


Thankyou so much everyone~ ♥

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 14,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Psikologi Golongan Darah


Di Jepang, ramalan tentang seseorang lebih ditentukan oleh golongan darah daripada
zodiak atau shio. Kenapa?
Katanya, golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan psikologi kita.
Benar apa tidak?

SIFAT SECARA UMUM :
A : terorganisir, konsisten, jiwa kerja-sama tinggi, tapi selalu cemas (krn perfeksionis) yg kadang bikin org mudah sebel, kecenderungan politik: “destra”
B : nyantai, easy going, bebas, dan paling menikmati hidup, kecenderungan politik: �sinistra”
O : berjiwa besar, supel, gak mau ngalah, alergi pada yg detil, kecenderun gan politik: “centro”
AB: unik, nyleneh, banyak akal, berkepribadian ganda, kecenderungan politik

Continue reading “Psikologi Golongan Darah”

Ubume 産女


Ubume adalah roh perempuan yang meninggal saat melahirkan atau meninggal tanpa memastikan bahwa anak-anak mereka telah lahir. Ubume menjadi perhatian umum di Jepang, tentang tugas seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ada banyak kisah tetang Ubume. Ubume muncul dalam bentuk hantu Jepang pada umumnya, mereka berpakaian jubah putih dan memiliki rambut panjang, tidak terikat dan kusut.

japanese ghost Continue reading “Ubume 産女”

Huruf dan Bahasa Jepang


Sampai saat ini penulisan resmi dan tidak resmi di seluruh Jepang masih dipergunakan 4 jenis huruf yaitu Romaji (huruf latin), hiragana dan katakana (kana), dan huruf China (kanji).

  • Romaji

Romaji atau huruf latin di Jepang terbatas sekali pemakaiannya, yaitu hanya untuk penulisan kata-kata yang bersifat internasional seperti rumus kimia, ukuran dan nama atau istilah di luar bahasa Jepang yang disingkat.

Seperti : H2O, gram, meter, UNO, USA

Selain itu dipakai pula untuk menuliskan beberapa istilah atau nama tempat yang sering dikunjungi orang banyak seperti: Lavatory, exit, station, post dan lain-lain. Continue reading “Huruf dan Bahasa Jepang”

Manusia Jepang


Tiada bangsa di dunia ini selain bangsa Jepang yg senang membahas secara ilmiah terhadap bangsanya sendiri. Ilmu yang membahas hal ini disebut nihonjinron. Selain orang jepang, banyak juga orang bangsa lain  yg berminat terhadap nihonjinron. Seperti halnya E. O. Reischauer mantan Duta Besar Amerika di Jepang, E. Vogel pakar Kejepangan orang Amerika juga, dan banyak lagi pakar asing lainnya termasuk Sayidiman Suryohadiprojo mantan Duta Besar Indonesia di Jepang.

Prof. H. Suzuki seorang Sosiolog pada Fakultas Sastra Universitas Kyushu, mengutarakan beberapa karakteristik manusia Jepang dari hasil pengamatannya terhadap fisik, sosok penampilan manusianya, dan lingkungan, sebagai berikut: Continue reading “Manusia Jepang”

Kabuki 歌舞伎


Kabuki (歌舞伎 ) adalah seni teater tradisional khas Jepang. Aktor kabuki terkenal dengan kostum mewah dan tata rias wajah yang mencolok.

Banyak pendapat mengenai asal kata dari Kabuki ini, salah satunya adalah kabusu yang ditulis dengan karakter kanji 歌舞 dengan ditambahkan akhiran す sehingga menjadi kata kerja 歌舞す yang berarti bernyanyi dan menari.Selanjutnya disempurnakan menjadi, kabuki yang ditulis dengan tiga karakter kanji, yaitu uta 歌 (lagu), mai 舞  (tarian), dan ki 伎 (tehnik). Continue reading “Kabuki 歌舞伎”

Seppuku (Harakiri)


Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri. Di luar Jepang seppuku lebih di kenal dengan Harakiri. Walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri di anggap sebagai istilah yang kasar. Ritual seppuku biasa memerlukan keterlibatan aktif paling tidak 2 orang, 1 orang yang mau bunuh diri, satu 0rang lagi yang bertugas untuk memenggal kepala orang yang melakukan seppuku (Kaishakunin). Dalam pemenggalan itu, leher yang di penggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala tetap menempel pada tubuhnya. Sehingga yang menjadi Kaishakunin harus ahli pedang.

Seppuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rumit. Orang yang hendak bunuh diri harus mandi dulu dan bersih-bersih, lantas memakai pakaian serba putih, makan dulu, baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk diam dengan Tanto diletakan di depannya. Continue reading “Seppuku (Harakiri)”