Ubume 産女


Ubume adalah roh perempuan yang meninggal saat melahirkan atau meninggal tanpa memastikan bahwa anak-anak mereka telah disediakan. Ubume menjadi perhatian umum di Jepang, tentang tugas seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ada banyak kisah tetang Ubume. Ubume muncul dalam bentuk hantu Jepang pada umumnya, mereka berpakaian jubah putih dan memiliki rambut panjang, tidak terikat dan kusut.

japanese ghost

Dalam beberapa cerita, ubume akan membeli permen dan makanan lain untuk anak-anak mereka yang masih hidup dengan koin yang ternyata adalah daun-daun kering. Dalam cerita lain, ubume akan mencoba untuk menarik perhatian manusia, dan memimpin dia untuk pergi ke tempat di mana anaknya tersembunyi, sehingga anaknya mendapat ritual yang benar dan diterima di kalangan masyarakat.

Huruf dan Bahasa Jepang


Sampai saat ini penulisan resmi dan tidak resmi di seluruh Jepang masih dipergunakan 4 jenis huruf yaitu Romaji (huruf latin), hiragana dan katakana (kana), dan huruf China (kanji).

  • Romaji

Romaji atau huruf latin di Jepang terbatas sekali pemakaiannya, yaitu hanya untuk penulisan kata-kata yang bersifat internasional seperti rumus kimia, ukuran dan nama atau istilah di luar bahasa Jepang yang disingkat.

Seperti : H2O, gram, meter, UNO, USA

Selain itu dipakai pula untuk menuliskan beberapa istilah atau nama tempat yang sering dikunjungi orang banyak seperti: Lavatory, exit, station, post dan lain-lain.

  • Kanji

Kanji berasal dari ‘Kan’ yang berarti China dan ‘Ji’ yang berarti huruf. Jadi sebenarnya kanji adalah huruf China yang masuk ke Jepang kira-kira abad ke-7. Kanji di bawa orang China ke Jepang pada saat mereka berdagang dan menyebarkan agama Budha, ada yang langsung, ada pula yang melalui Korea.

Kanji yang dianggap orang Jepang sebagai huruf Jepang sendiri, dipergunakan orang Jepang sampai saat ini, dipergunakan dominan sekali namun sejak tahun 1981 Departmen Pendidikan Jepang memutuskan jumlah kanji yang harus di pelajari anak didik di seluruh Jepang dari Sekolah dasar sampai Sekolah Menengah Pertama berjumlah 1945 huruf.

Kanji merupakan gambaran dari benda, gejala, keadaan sesuatu sehingga satu kanji memiliki arti tersendiri. Selai itu kanji memiliki bunyi yang terdiri dari bunyi menurut cara baca aslinya yaitu China, dan bunyi menurut cara Jepang. Kanji paling sedikitnya mempunyai 2 cara baca.

  • Hiragana

Hiragana berasal dari ciptaan kaum wanita Jepang pada Zaman Heian, sehingga bentuk hurufnya sesuai dengan watak perempuan yaitu lemah gemulai. Huruf ini hanya bisa dipergunakan untuk menuliskan bahasa Jepang. Jumlah huruf  ini adalah 45. Jepang juga menambah tanda-tanda seperti Nigori, Maru, dan huruf Tsu kecil, serta menambahkan huruf Ya Yu Yo kecil.

  • Katakana

Katakana juga berasal dari ciptaan bangsa Jepang sendiri. Jumlahnya pun sama dengan Hiragana yaitu 45 huruf. Huruf ini digunakan untuk menuliskan nama diri, nama tempat, dan istilah bukan bahasa Jepang.

Manusia Jepang


Tiada bangsa di dunia ini selain bangsa Jepang yg senang membahas secara ilmiah terhadap bangsanya sendiri. Ilmu yang membahas hal ini disebut nihonjinron. Selain orang jepang, banyak juga orang bangsa lain  yg berminat terhadap nihonjinron. Seperti halnya E. O. Reischauer mantan Duta Besar Amerika di Jepang, E. Vogel pakar Kejepangan orang Amerika juga, dan banyak lagi pakar asing lainnya termasuk Sayidiman Suryohadiprojo mantan Duta Besar Indonesia di Jepang.

Prof. H. Suzuki seorang Sosiolog pada Fakultas Sastra Universitas Kyushu, mengutarakan beberapa karakteristik manusia Jepang dari hasil pengamatannya terhadap fisik, sosok penampilan manusianya, dan lingkungan, sebagai berikut:

  1. Laki-laki Jepang bertubuh pendek, agak gemuk dan berjalannya cepat, apabila di pandang sekilas tampak lucu.
  2. Pada umumnya mereka berpenampilan sama, bersetelan Jas gelap (warna: hitam, abu-abu, merah tua dan warna gelap lainnya), mengenakan sepatu hitam mengkilap, memakai dasi pada kemejanya. Manusia Jepang merupakan bangsa berseragam setelah jas gelap.
  3. Sosok wanita jarang didapati di siang hari di tempat yang ramai, pakaiannya sama dengan laki-lakinya, mereka juga senang warna yang gelap. Sebenarnya mereka kaya akan corak warna, dan pakaian seragam juga sangat banyak ragamnya, akan tetapi semuanya tetap berwarna gelap (seragam: pegawai bank, penjaga toko dan karyawan)
  4. Laki-lakinya apabila diperhatikan dari kejauhan bertubuh kecil dan lugu, begitu dilihat dari dekat sorot matanya buruk, umumnya penuh dengan realisme yang bugil.
  5. Bangunan-bangunan yang menjadi pusatnya pemandangan kota berbentuk persegi empat, berwarna gelap sesuai dengan setelan Jas, tanpa hiasan berderet berjajar seperti uniform.
  6. Tidak laki-laki maupun wanitanya, semuanya segera dapat dikenali sebagai satu ras yang sama, pertama adanya kesamaan pada warna kulit, bentuk tubuh dan pakaiannya. kedua, yang mengagetkan mereka serempak berambut hitam, sama sekali tidak tampak seperti dari ras yang lain.
  7. Tidak didapatnya penganggur, peminta-minta dan ‘tentara’.
  8. Kaya akan jenis barang dagang, perkembangan usaha grosir sangat mencolok, terutama banyak didapatinya warung minuman dan makanan, yang kebanyakan dipenuhi kelompok pekerja. Tamu pun selalu memenuhinya.
  9. Tampak mencolok fasilitas hiburan dalam arti luas, seperti panchiko dan maajan, semuanya selalu dalam kegiatan berusaha. Kemudian, poster wanita bugil dengan berbagai pose penampilannya, dan beragam iklan menyita seluruh tiang-tiang listrik dan tembok.
  10. Alamnya indah di pandang dari udara, gunung dan sungainya, kaya akan warna hijau, begitu pula pantainya. daratannya sedikit, rumah penduduk terkotak-kotak berdesakan.

Di dalam buku FUDO karya Wachuji Tetsuro tertulis, ‘begitu kembali lagi ke Jepang setelah mengakhiri perjalanan, Jepang tidak akan berbeda keanehannya dengan padang pasir Arab, tidak memberikan rasa janggal, sama sekali hanya sebagai kejanggalan yang global saja”

  • Rangkuman Bahasan :
  1. Bangsa Jepang sebagai bangsa Asia pertama yang sanggup ‘meniru’ bangsa-bangsa Eropa dalam perkembangan Industri.
  2. Merupakan bangsa Asia pertama yang dalam abad ke-20 dapat mengalahkan bangsa eropa dalam perang dengan menggunakan alat dan senjata hasil teknologi modern (mengalahkan Rusia tahun 1904 – 1905).
  3. Jepang mampu mengadakan petualangan-petualangan militer untuk membentuk daerah-daerah jajahan (perang dunia kedua).
  4. Pihak lawan dan kawan mengakui kehebatan daya tempurnya dan ‘keuletan’ manusianya dalam menghadapi berbagai kekurangan dan persoalan.
  5. Jepang merupakan satu-satunya bangsa di dunia yang pernah di jatuhi ‘bom atom’, tetapi sanggup bangkit kembali dengan cepat dan mengembangkan kehidupan ekonomi yang maju. Kesejahteraan rakyatnya meningkat dengan amat cepat dan menungguli bangsa-bangsa yang telah mengalahkannya dalam perang. Jepang menjadi bangsa yang ekonominya ‘kedua terkuat’ di dunia setelah Amerika (sebelum abad ke-20 berakhir, Jepang melampaui ekonomi Amerika).
  6. Manusianya sanggup mengungguli Amerika dalam produl ‘mobil’, suatu hal yang sukar di bayangkan 10 tahun yang lalu. Sebelumnya Jepang sudah sanggup mengungguli Jerman dalam produksi kamera dan alat-alat elektronika, Inggris dalam produksi sepeda motor dan pembuatan kapal, Swiss dalam produksi arloji. Semuanya merupakan peristiwa yang sebelumnya sukar untuk dipikirkan dan di bayangkan.
  7. Jepang pandai membina manusia dan masyarakatnya, sehingga dapat mengatasi kekurangan-kekurangan dalam kekayaan sumber alam dan energi
  8. Walaupun demikian, dalam kemajuan dibidang material. Jepang tidak pernah kehilangan kepribadian dan ‘adat-istiadatnya’ yang tradisional.
  9. Betapapun manusia Jepang mengambil ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, mempelajari dan mengerjakan kesenian Barat, berpakaian cara Barat, berlaku seperti orang barat,mereka akan tetap sebagai manusia Jepang.  Apa yang diambilnya dari Barat merupakan kulit luar. Mereka akan tetap merupakan manusia yang menjunjung tinggi harmoni dan kehidupan berkelompok, dan tidak menjadi pengikut individualisme.
  10. Bangsa Jepang umumnya dikenal sebagai bangsa yang mampu mengambil dan menarik manfaat dari hasil budaya bangsa lain, tanpa mengorbankan kepribadiannya sendiri.

Kabuki 歌舞伎


Kabuki (歌舞伎 ) adalah seni teater tradisional khas Jepang. Aktor kabuki terkenal dengan kostum mewah dan tata rias wajah yang mencolok.

Banyak pendapat mengenai asal kata dari Kabuki ini, salah satunya adalah kabusu yang ditulis dengan karakter kanji 歌舞 dengan ditambahkan akhiran す sehingga menjadi kata kerja 歌舞す yang berarti bernyanyi dan menari.Selanjutnya disempurnakan menjadi, kabuki yang ditulis dengan tiga karakter kanji, yaitu uta 歌 (lagu), mai 舞  (tarian), dan ki 伎 (tehnik).

Selain yang telah dijelaskan diatas, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa kata kabuki ini berasal dari kata kabuki かぶき, kabuku かぶく, kabukan かぶかん, atau kabuke かぶけ yang ditulis dengan karakter kanji katamuku 傾. Karakter kanji katamuku yang dibaca kabuku ini secara harfiah berarti cenderung, condong, miring atau tidak sama dengan pemikiran umum (Kira-kira sama dengan kata iyou yang ditulis dengan kanji 異様, yang berarti aneh, asing, atau tidak sama dengan keadaan masyarakat disekitarnya pada waktu itu). Kata ini digunakan untuk menyebutkan orang-orang yang cenderung atau condong ke arah duniawi, dan orang-orang yang berpakaian dan bertingkah laku aneh. Pendapat yang mengatakan penamaan kabuki berasal dari kata katamuku ini dikarenakan pada saat kabuki pertama kali diperkenalkan oleh Okuni, seorang Miko 巫女 (pendeta wanita) dari daerah Izumo, Okuni memakai kostum laki-laki dengan membawa pedang dan mengenakan aksesoris-aksesoris yang tidak lazim pada zaman tersebut, seperti rosario yang dikenakan di pinggang bukan digantungkan dileher. Ceritanya pun berkisar tentang seorang laki-laki yang pergi bermain-main ke kedai teh untuk minum-minum bersama para wanita penghibur. Hal ini kemudian diasosiasikan dengan kumpulan orang-orang yang berpakaian dan bertingkah-laku aneh serta tidak lazim yang muncul pada saat itu, yang dikenal dengan nama kabukimono カブキモノ.

Setelah melalui beberapa perkembangan akhirnya kabuki ditulis dengan tiga karakter kanji yaitu uta 歌 (lagu), mai 舞 (tarian), dan ki 妓 (seniman wanita) yang kemudian karakter kanji ki 妓 diubah menjadi ki 伎, sehingga kabuki ditulis menjadi 歌舞伎(かぶき) yang sekarang ini. Penamaan kabuki dengan menggunakan tiga karakter kanji di atas, dikarenakan tiga karakter di atas dianggap sesuai dengan unsur-unsur yang ada di dalam pertunjukan teater kabuki itu tersebut. Adapun pada awalnya karakter ki, ditulis dengan 妓dikarenakan kabuki pada awalnya lahir dari seorang seniman wanita yang bernama okuni 阿国 dari kuil Izumo.

Sejarah kabuki dimulai tahun 1603 dengan pertunjukan dramatari yang dibawakan wanita bernama Okuni di kuil Kitano Temmangu, Kyoto. Kemungkinan besar Okuni adalah seorang miko asal kuil Izumo Taisha, tapi mungkin juga seorang kawaramono (sebutan menghina buat orang kasta rendah yang tinggal di tepi sungai). Identitas Okuni yang benar tidak dapat diketahui secara pasti. Tari yang dibawakan Okuni diiringi dengan lagu yang sedang populer. Okuni juga berpakaian mencolok seperti laki-laki dan bertingkah laku tidak wajar seperti orang aneh (“kabukimono”), sehingga lahir suatu bentuk kesenian garda depan (avant garde). Panggung yang dipakai waktu itu adalah panggung Noh. Hanamichi (honhanamichi yang ada di sisi kiri penonton dan karihanamichi yang ada di sisi kanan penonton) di gedung teater Kabuki-za kemungkinan merupakan perkembangan dari Hashigakari (jalan keluar-masuk aktor Noh yang ada di panggung sisi kiri penonton).

Kesenian garda depan yang dibawakan Okuni mendadak sangat populer, sehingga bermunculan banyak sekali kelompok pertunjukan kabuki imitasi. Pertunjukan kabuki yang digelar sekelompok wanita penghibur disebut Onna-kabuki (kabuki wanita), sedangkan kabuki yang dibawakan remaja laki-laki disebut Wakashu-kabuki (kabuki remaja laki-laki). Keshogunan Tokugawa menilai pertunjukan kabuki yang dilakukan kelompok wanita penghibur sudah melanggar batas moral, sehingga di tahun 1629 kabuki wanita penghibur dilarang dipentaskan. Pertunjukan kabuki laki-laki daun muda juga dilarang pada tahun 1652 karena merupakan bentuk pelacuran terselubung. Pertunjukan Yarō kabuki 野郎歌舞伎 (kabuki pria ) yang dibawakan seluruhnya oleh pria dewasa diciptakan sebagai reaksi atas dilarangnya Onna-kabuki dan Wakashu-kabuki. Aktor kabuki yang seluruhnya terdiri dari pria dewasa yang juga memainkan peran sebagai wanita melahirkan “konsep baru” dalam dunia estetika. Kesenian Yarō kabuki terus berkembang di zaman Edo dan berlanjut hingga sekarang.

Dalam perkembangannya, kabuki digolongkan menjadi Kabuki-odori (kabuki tarian) dan Kabuki-geki (kabuki sandiwara). Kabuki-odori dipertunjukkan dari masa kabuki masih dibawakan Okuni hingga di masa kepopuleran Wakashu-kabuki, remaja laki-laki menari diiringi lagu yang sedang populer dan konon ada yang disertai dengan akrobat. Selain itu, Kabuki-odori juga bisa berarti pertunjukan yang lebih banyak tarian dan lagu dibandingkan dengan porsi drama yang ditampilkan.

Kabuki-geki merupakan pertunjukan sandiwara yang ditujukan untuk penduduk kota di zaman Edo dan berintikan sandiwara dan tari. Peraturan yang dikeluarkan Keshogunan Edo mewajibkan kelompok kabuki untuk “habis-habisan meniru kyōgen” merupakan salah satu sebab kabuki berubah menjadi pertunjukan sandiwara. Alasannya kabuki yang menampilkan tari sebagai atraksi utama merupakan pelacuran terselubung dan pemerintah harus menjaga moral rakyat. Tema pertunjukan kabuki-geki bisa berupa tokoh sejarah, cerita kehidupan sehari-hari atau kisah peristiwa kejahatan, sehingga kabuki jenis ini juga dikenal sebagai Kabuki kyogen. Kelompok kabuki melakukan apa saja demi memuaskan minat rakyat yang haus hiburan. Kepopuleran kabuki menyebabkan kelompok kabuki bisa memiliki gedung teater khusus kabuki seperti Kabuki-za. Pertunjukan kabuki di gedung khusus memungkinkan pementasan berbagai cerita yang dulunya tidak mungkin dipentaskan.

Di gedung kabuki, cerita yang memerlukan penjelasan tentang berjalannya waktu ditandai dengan pergeseran layar sewaktu terjadi pergantian adegan. Selain itu, di gedung kabuki bisa dibangun bagian panggung bernama hanamichi yang berada melewati di sisi kiri deretan kursi penonton. Hanamichi dilewati aktor kabuki sewaktu muncul dan keluar dari panggung, sehingga dapat menampilan dimensi kedalaman. Kabuki juga berkembang sebagai pertunjukan tiga dimensi dengan berbagai teknik, seperti teknik Séri (bagian panggung yang bisa naik-turun yang memungkinkan aktor muncul perlahan-lahan dari bawah panggung), dan Chūzuri (teknik menggantung aktor dari langit-langit atas panggung untuk menambah dimensi pergerakan ke atas dan ke bawah seperti adegan hantu terbang).

Sampai pertengahan zaman Edo, Kabuki-kyogen kreasi baru banyak diciptakan di daerah Kamigata. Kabuki-kyogen banyak mengambil unsur cerita Ningyo Jōruri yang khas daerah Kamigata. Penulis kabuki asal Edo tidak cuma diam melihat perkembangan pesat kabuki di Kamigata. Tsuruya Namboku banyak menghasilkan banyak karya kreasi baru sekitar zaman zaman Bunka hingga zaman Bunsei. Penulis sandiwara kabuki Kawatake Mokuami juga baru menghasilkan karya-karya barunya di akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji. Sebagai hasilnya, Edo makin berperan sebagai kota budaya dibandingkan Kamigata mulai paruh kedua zaman Edo. Di zaman Edo, Kabuki-kyogen juga disebut sebagai sandiwara (shibai).

  • Kabuki Kyogen

Secara garis besar ada 2 jenis pertunjukan Kabuki-kyogen dari semua karya yang dihasilkan di zaman Edo dan sekarang masih dipentaskan. Kelompok pertama Kabuki-kyogen disebut Maruhon mono yang mengadaptasi sebagian besar cerita dari cerita Ningyo Jōruri (Bunraku). Kelompok kedua disebut Kabuki kreasi baru. Kabuki Maruhon mono juga dikenal sebagai Gidayu-kyōgen, tapi Gidayu-kyōgen tidak selalu sama dengan Maruhon mono. Pada Gidayu-kyōgen, aktor kabuki membawakan dialog sementara dari atas mawaributai (panggung yang bisa berputar, dari arah penonton terletak di sisi kanan panggung) penyanyi yang disebut Tayu bernyanyi sambil diiringi pemain shamisen yang memainkan musik Gidayu-bushi. Pada Ningyo Jōruri yang semua penjelasan cerita dan dialog dinyanyikan oleh Tayu. Pada kabuki kreasi baru, musik pengiring dimainkan dari Geza (tempat atau ruang untuk pemusik yang dari arah penonton terletak di sisi kiri panggung).

Cerita kabuki yang berasal dari didramatisasi kisah sejarah disebut Jidaimono. Cerita kabuki dengan kisah berlatar belakang kehidupan masyarakat disebut Sewamono. Selain itu, penulis cerita kabuki juga senang menggunakan istilah sekai (dunia) sebagai kerangka dasar cerita, misalnya karya kabuki berjudul Taiheiki no sekai 太平記の世界 (Dunia Taiheiki ), Heike monogatari no sekai 平家物語の世界 (Dunia Kisah klan Heike ), Sogamono no sekai 曾我物の世界 (Dunia Sogamono) , atau Sumidagawamono no sekai 隅田川物の世界 (Dunia Sumidagawamono ). Penonton biasanya sudah tahu jalan cerita dan akrab dengan tokoh-tokoh yang tampil dalam cerita. Penonton hanya ingin menikmati jalan cerita seperti yang dikisahkan penulis cerita kabuki.

Di zaman Edo, pementasan Kabuki-kyogen perlu mendapat izin dari instansi yang berwenang. Keshogunan Edo biasanya mengizinkan sebagian besar pementasan yang diadakan sejak matahari terbit hingga sebelum matahari terbenam asalkan materi pementasan tidak melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Pementasan yang dilakukan malam hari sesudah matahari terbenam tidak diizinkan. Alasannya pertunjukan kabuki banyak diminati orang dan pemerintah kuatir kerumunan orang dapat melakukan kegiatan melawan pemerintah. Pertunjukan kabuki pada masa itu memerlukan waktu istirahat yang lama, antara lain untuk mengganti set panggung. Bagi penonton yang datang menyaksikan kabuki, menonton kabuki perlu sehari penuh dan merupakan satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan pada hari itu.

Sebagian penonton menyukai Jidaimono sedangkan sebagian lagi menyukai Sewamono, sehingga kabuki dalam pementasannya dituntut untuk bisa memuaskan selera semua kalangan penonton. Dalam usaha memuaskan selera penonton, pada pementasan kabuki sering dipertunjukkan dua cerita sekaligus, Jidaimono dan Sewamono yang dipisahkan dengan waktu istirahat. Pementasan dengan jalan cerita yang campur aduk juga tidak sedikit asalkan penonton senang. Ada juga pementasan yang bagaikan bunga rampai dari berbagai cerita dan hanya mengambil bagian-bagian cerita yang disukai penonton saja. Pertunjukan seperti ini disebut Midori-kyōgen (konon berasal dari kata Yoridori midori yang dalam bahasa Jepang berarti serbaneka atau aneka ragam). Sebaliknya kyogen yang mementaskan keseluruhan cerita secara lengkap disebut Tōshi-kyōgen.

Musik pengiring kabuki dibagi berdasarkan arah sumber suara. Musik yang dimainkan di sisi kanan panggung dari arah penonton disebut Gidayūbushi. Takemoto (Chobo) adalah sebutan untuk Gidayūbushi khusus untuk kabuki. Selain itu, musik yang dimainkan di sisi kiri panggung dari arah penonton disebut Geza ongaku, sedangkan musik yang dimainkan di atas panggung disebut Debayashi.

Judul pertunjukan kabuki disebut Gedai 外題  yang kemungkinan besar berasal dari kata Geidai (芸題 ,nama pertunjukan). Judul pertunjukan (gedai) biasanya ditulis dalam aksara kanji berjumlah ganjil, misalnya pertunjukan berjudul Musume dōjōji 娘道成寺 (4 aksara kanji) harus ditambah dengan Kyōkanoko 京鹿子  (3 aksara kanji) menjadi 京鹿子娘道成寺 (Kyōkanoko musume dōjōji), supaya bisa menjadi judul yang terdiri dari 7 aksara kanji. Selain judul pertunjukan yang resmi, pertunjukan kabuki sering memiliki judul alias dan keduanya dianggap sebagai judul yang resmi. Pertunjukan berjudul resmi Miyakodori nagare no siranami 都鳥廓白波  dikenal dengan judul lain Shinobu no Sōda 忍ぶの惣太 . Pertunjukan berjudul Hachiman matsuri yomiya no nigiwai 八幡祭小望月賑  juga dikenal sebagai Chijimiya Shinsuke 縮屋新助 . Judul pertunjukan yang harus ditulis dalam aksara kanji berjumlah ganjil menyebabkan judul sering ditulis dengan cara penulisan ateji, akibatnya orang sering mendapat kesulitan membaca judul pertunjukan kabuki.

Beberapa di antara istilah kabuki diserap ke dalam perbendaharaan kata bahasa Jepang, misalnya:

  • Sashigane

Di atas panggung bila perlu adegan yang melibatkan aktor kabuki mengejar kupu-kupu atau burung, pembantu yang disebut Kōken (asisten di panggung yang sering berpakaian hitam) memegangi tongkat panjang yang diujungnya terdapat kupu-kupu atau burung yang disebut Sashigane. Dalam bahasa Jepang, istilah “sashigane” digunakan dalam konotasi negatif “orang yang mengendalikan”.

  • Kuromaku

Di panggung pertunjukan kabuki, malam dinyatakan dengan tirai (maku) berwarna hitam (kuro). Dalam bahasa Jepang, dalam istilah “sekai no kuromaku” (dunia tirai hitam) kata “kuro” (hitam) berubah arti menjadi “jahat”. Dalam bahasa Jepang “kuromaku” berarti “dalang” seperti dalam arti “dalang kejahatan”.

Kepopuleran kabuki tetap tidak tergoyahkan sejak zaman Meiji, tapi sering menerima kritik. Di antaranya kalangan intelektual menganggap isi cerita kabuki tidak sesuai untuk dipertunjukkan di negara orang beradab. Kalangan di dalam dan luar lingkungan kabuki juga menuntut pembaruan di dalam kabuki, sehingga mau tidak mau dunia showbiz kabuki harus diubah sesuai tuntutan zaman. Kritik terhadap kabuki mengatakan banyak unsur dalam kabuki yang sebenarnya tidak pantas dimasukkan ke dalam drama kabuki, misalnya: alur cerita yang tidak masuk akal, tema cerita yang kuno atau berbau feodal, dan trik panggung yang sekadar untuk membuat penonton takjub, seperti adegan aktor bisa “terbang” atau berganti kostum dalam sekejap.

Akibat kritik yang diterima, dunia showbiz kabuki sejak zaman Meiji berusaha mengadakan gerakan pembaruan dalam berbagai aspek teater kabuki. Gerakan pembaruan yang disebut Engeki Kairyō Undō juga melibatkan pemerintah Meiji yang memang bermaksud mengontrol pertunjukan kabuki. Pemerintah Meiji bercita-cita menciptakan pertunjukan teater yang pantas dan bisa dinikmati kalangan menengah dan kalangan atas suatu “masyarakat yang bermoral”. Salah satu hasil gerakan pembaruan kabuki adalah dibukanya gedung Kabuki-za sebagai tempat pementasan kabuki. Selain itu, pembaruan juga melahirkan genre baru teater kabuki yang disebut Shimpa.

Karya kabuki yang diciptakan di tengah gerakan pembaruan disebut Shin-kabuki, dengan karya-karya baru banyak bermunculan hingga di awal zaman Showa. Penggemar kabuki biasanya tidak menyukai sebagian besar karya kabuki yang mendapat pengaruh gerakan pembaruan dan dipentaskan sebagai Shin-kabuki. Penggemar Shin-kabuki cuma penulis terkenal seperti Tsubouchi Shoyo, Osanai Kaoru, dan Okamoto Kido yang begita suka hingga menulis naskah baru untuk kabuki. Sampai sekarang, karya-karya yang tergolong ke dalam Shin-kabuki yang tidak disukai penggemar hampir tidak pernah dipentaskan.

Setelah Perang Dunia II, orang Jepang akhirnya mulai menyadari pentingnya bentuk kesenian kabuki yang asli. Di tahun 1965, pemerintah Jepang menunjuk kabuki sebagai warisan agung budaya nonbendawi dan pemerintah membangun Teater Nasional Jepang di Tokyo yang di antaranya digunakan untuk pentas kabuki.

Selain itu, Ichikawa Ennosuke III berusaha menghidupkan kembali naskah-naskah kabuki lama yang sudah jarang dipentaskan. Naskah kabuki yang jarang dipentaskan dan dihidupkan kembali oleh Ichikawa Ennosuke III dikenal sebagai Fukkatsu-kyōgen (kyogen yang dihidupkan kembali). Kabuki yang dipentaskan Ichikawa Ennosuke III disebut Supa-kabuki (kabuki super), karena Ennosuke mencoba teknik pementasan lebih berani dengan menghidupkan kembali trik panggung (kérén) yang dulunya pernah dianggap selera rendah oleh banyak orang. Belakangan ini, pertunjukan kabuki juga sering menampilkan dramawan dan sutradara teater di luar lingkungan kabuki sebagai sutradara tamu.

Pementasan kabuki di zaman sekarang sudah sangat berbeda dengan pementasan kabuki di zaman Edo. Kelompok kabuki berusaha memodernisasi pertunjukan sekaligus memelihara tradisi pementasan. Kabuki sekarang sudah dianggap sebagai seni pertunjukan tradisional yang sesuai dengan kemajuan zaman.

Organisasi Pelestarian Kabuki Tradisional (Dentō Kabuki Hōzonkai) beranggotakan tokoh-tokoh dari dari dunia kabuki. Pemerintah Jepang menunjuk organisasi sebagai pelestari Karya Agung Warisan Budaya Oral serta Nonbendawi Manusia kabuki sejak tahun 1965. Pada bulan Januari 2006, organisasi beranggotakan 169 orang.

Ikebana 生花


Ikebana adalah seni merangkai bunga yang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya. Dalam bahasa Jepang, Ikebana juga dikenal dengan istilah kadō yang lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai kesempurnaan dalam merangkai bunga.

Di dalam Ikebana terdapat berbagai macam aliran yang masing-masing mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga. Aliran tertentu mengharuskan orang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian depan, sedangkan aliran lain mengharuskan orang melihat rangkaian bunga yang berbentuk tiga dimensi sebagai benda dua dimensi saja.

Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme dan warna. Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tapi pada aspek pengaturannya menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana didasarkan tiga titik yang mewakili langit, bumi, dan manusia.

Ikebana adalah tradisi mempersembahkan bunga di kuil Buddha di Jepang. Ikebana berkembang bersamaan dengan perkembangan agama Buddha di Jepang di abad ke-6.

Ada penelitian yang mengatakan Ikebana berasal dari tradisi animisme orang zaman kuno yang menyusun kembali tanaman yang sudah dipetik dari alam sesuai dengan keinginannya. Di zaman kuno, manusia merasakan keanehan yang terdapat pada tanaman dan mengganggapnya sebagai suatu misteri. Berbeda dengan binatang yang langsung mati setelah diburu, bunga atau bagian tanaman yang sudah dipetik dari alam bila diperlakukan dengan benar tetap mempertahankan kesegaran sama seperti sewaktu masih berada di alam. Manusia yang senang melihat “keanehan” yang terjadi kemudian memasukkan bunga atau bagian tanaman yang sudah dipotong ke dalam vas bunga. Manusia zaman kuno lalu merasa puas karena menganggap dirinya sudah berhasil mengendalikan peristiwa alam yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

Ketakjuban manusia terhadap tumbuhan yang dianggap mempunyai kekuatan aneh juga berkaitan dengan pemujaan tanaman yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun (evergreen). Manusia zaman dulu yang tinggal di negeri empat musim percaya bahwa kekuatan misterius para dewa menyebabkan tanaman selalu berdaun hijau sepanjang tahun dan tidak merontokkan daunnya di musim dingin.

Menurut literatur klasik seperti Makura no sōshi yang bercerita tentang adat istiadat Jepang, tradisi mengagumi bunga dengan cara memotong tangkai dari sekuntum bunga sudah dimulai sejak zaman Heian. Pada mulanya, bunga diletakkan di dalam wadah yang sudah ada sebelumnya dan kemudian baru dibuatkan wadah khusus untuk vas bunga.

Ikebana dalam bentuk seperti sekarang ini baru dimulai para biksu di kuil Chōhōji Kyoto pada pertengahan zaman Muromachi. Para biksu kuil Chōhōji secara turun temurun tinggal di kamar di pinggir kolam, sehingga aliran baru Ikebana yang dimulainya disebut aliran Ikenobō.


Di pertengahan zaman Edo, berbagai kepala aliran atau Iemoto dan guru besar kepala atau Souke menciptakan seni merangkai bunga gaya Tachibana atau Rikka yang menjadi mapan pada masa itu.

Di pertengahan zaman Edo hingga akhir zaman Edo, Ikebana yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan atau kaum samurai secara berangsur-angsur mulai disenangi rakyat kecil. Pada zaman itu, Ikebana gaya Shōka menjadi populer di kalangan rakyat.

Aliran Mishōryū, aliran Koryū, aliran Enshūryū dan aliran Senkeiryū melahirkan banyak guru besar dan ahli Ikebana yang memiliki teknik tingkat tinggi yang kemudian memisahkan diri membentuk banyak aliran yang lain.

Ikebana mulai diperkenalkan ke Eropa pada akhir zaman Edo hingga masa awal era Meiji ketika minat orang Eropa terhadap kebudayaan Jepang sedang mencapai puncaknya. Ikebana dianggap mempengaruhi seni merangkai bunga Eropa yang mencontoh Ikebana dalam line arrangement.

Sejak zaman Edo lahir banyak sekali aliran yang merupakan pecahan dari aliran Ikenobō. Pada bulan Maret 2005 tercatat 392 aliran Ikebana yang masuk ke dalam daftar Asosiasi Seni Ikebana Jepang.

Ada 3 gaya dalam Ikebana, yaitu : rikka, shoka dan jiyuka.

  • Rikka

Rikka (Standing Flower)adalah ikebana gaya tradisional yang banyak dipergunakan untuk perayaan keagamaan. Gaya ini menampilkan keindahan landscape tanaman. Gaya ini berkembang sekitar awal abad 16. Ada 7 keutamaan dalam rangkaian gaya Rikka, yaitu : shin, shin-kakushi, soe, soe-uke, mikoshi, nagashi dan maeoki.

  • Shoka

Shoka adalah rangkaian ikebana yang tidak terlalu formal tapi masih tradisional. Gaya ini difokuskan pada bentuk asli tumbuhan. Ada 3 unsur utama dalam gaya Shoka yaitu : shin, soe, dan tai. Sesuai dengan perkembangan zaman, sesudah Restorasi Meiji 1868, gaya ini lebih berkembang karena adanya pengaruh Eropa Nageire arti bebasnya “dimasukan” (rangkaian dengan vas tinggi dengan rangkaian hampir bebas)dan Moribana. rangkaian menggunakan wadah rendah dan mulut lebar). Lalu pada tahun 1977 lahir gaya baru yaitu Shoka Shimputai, yang lebih modern, terdiri dari 2 unsur utama yaitu shu dan yo, dan unsur pelengkapnya, ashirai.

  • Jiyuka

Jiyuka adalah rangkaian Ikebana bersifat bebas dimana rangkaiannya berdasarkan kreativitas serta imaginasi. Gaya ini berkembang setelah perang dunia ke-2. Dalam rangkaian ini kita dapat mempergunakan kawat,logam dan batu secara menonjol.

Peralatan yg digunakan hampir sama dengan peralatan merangkai bunga gaya eropa, dalam Ikebana kita memerlukan kawat dari berbagai ukuran (ketebalan kawat), gunting khusus untuk ikebana, Floral tape yg berwarna hijau dan coklat, selotip. Juga tang bunga, kenzan yaitu alas berduri tajam tempat mencucukan bunga.

Selain itu, kita juga memerlukan semacam pipet besar untuk mengambil air yang lama di vas ketika kita hendak mengganti airnya, batu-batuan kecil juga bisa dipergunakan bila kita mempergunakan vas/wadah/suiban tinggi.

Seppuku (Harakiri)


Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri. Di luar Jepang seppuku lebih di kenal dengan Harakiri. Walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri di anggap sebagai istilah yang kasar. Ritual seppuku biasa memerlukan keterlibatan aktif paling tidak 2 orang, 1 orang yang mau bunuh diri, satu 0rang lagi yang bertugas untuk memenggal kepala orang yang melakukan seppuku (Kaishakunin). Dalam pemenggalan itu, leher yang di penggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala tetap menempel pada tubuhnya. Sehingga yang menjadi Kaishakunin harus ahli pedang.

Seppuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rumit. Orang yang hendak bunuh diri harus mandi dulu dan bersih-bersih, lantas memakai pakaian serba putih, makan dulu, baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk diam dengan Tanto diletakan di depannya.

Tanto

Orang yang melakukan seppuku menulis puisi terlebih dahulu. Setelah selesai, Tanto diambil dan di tusukan ke perut agak ke kiri selanjutnya di geser ke kanan dan sedikit ke atas agar isi perutnya keluar. Setelah itu, barulah giliran kaishakuni beraksi memenggal lehernya. Tanto bekas pakai kemudian di letakan di atas piring bekas makan tadi.

Seorang Kaishakunin hanya di berikan kepada orang yang menjaga kehormatannya, seperti seorang samurai yang tertangkap musuh, maka akan di tugaskan seseorang untuk memenggal kepalanya. Jika seorang samurai itu tukang mencuri, tukang korupsi atau penjahat lainnya, maka tidak akan di beri kaishakunin dan dia dibiarkan mati kesakitan hingga kehabisan darah. Seppuku telah dihapuskan dengan resmi sejak tahun 1873, segera setelah restorasi meiji. Tapi seppuku secara sukarela belum sepenuhnya mati.

Ada 3 motif dilakukannya seppuku:

  1. Motif harga diri.
  2. Motif malu.
  3. Motif balas dendam.

*tugas nihongaku cie (penulis) hehehe…

Upacara Tradisonal dan Festival di Jepang


Upacara tradisional di Jepang kebanyakan berasal dari China. Hingga saat ini beberapa keluarga di Jepang masih menyelenggarakan upacara-upacara tradisional, meski pun beberapa diantaranya sudah mulai lenyap.

Adapun upacara yang masih dilaksanakan hingga saat ini adalah sebagai berikut:

  • Oshogatsu

Pada akhir bulan Desember orang jepang akan sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. mereka juga membuat kue mochi.  Adakalanya mereka memuat kue mochi beramai-ramai dengan mengenakan pakaian khas sambil diiringi semacam nyanyian atau kata-kata pemberi semangat. Pada tanggal 31 Desember di malam hari menjelang pukul 12 malam, mereka banyak yg menuju kuil ataupun menunggu di rumah. Merka menunggu lonceng berdebtang yang menandakan bergantinya tahun. Bunyi lonceng tersebut dinamakan JOYA NO KANE.

joya2

Orang Jepang pada bula Januari menyelenggarakan upacara Tahun Baru (oshogatsu). tahun baru bagi orang Jepang adalah sesuatu yang sangat penting. Orang-orang yang merantau untuk bekerja akan pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tahun baru bersama keluarga.

Pada umumnya kantor, perusahaan ataupun pertokoan di Jepang akan meliburkan diri kurang lebih 4 hari, bahkan ada yang libur hingga 1 minggu.

Menjelang tahun baru mereka membersihkan rumah dan menghiasinya dengan sejenis tali yang dianggap suci, tali tersebut dalam bahasa Jepang disebut Shimenawa.

oshogatsu

Selain itu di kiri dan kanan pintu masuk dihiasi pohon cemara yang dalam bahasa jepang di sebut Kado Matsu.

kadomatsu

Para ibu memasak masakan yang tahan lama dan merupakan masakan khas tahun baru.

Orang Jepang mulai tanggal 1 Januari sampai kurang lebih 3 hari, tidak boleh melakukan kegiatan memasak terutama membuang sampah.

mochi

Pada tanggal 1 Januari mereka memakan ku Mochi yang terbuat dari ketan semacam ulen, dengan sup ozoni, yaitu sup yang terbuat dari sayur dan akar juga batang tumbuh-tumbuhan. Sup ini hanya dihidangkan pada acara tertentu.

ozouni_japanese_soup

orang Jepang pada pagi hari banyak yang pergi ke kuil-kuil Budha atau ke tempat-tempat suci agama Shinto.

  • Setsubun

Pada bula Februari orang Jepang mengadakan upacra Setsubun. Upacara ini sebagia tanda bahwa musim dingin yang panjang telah berakhir. Pada malam hari di waktu Setsubun, mereka mengadakan upacara mengusir setan dengan cara menabur-naburkan kacang. Adapun maksudnya adalah mengusir roh jahat dan mengundang dewa keberuntungan untuk masuk ke dalam rumah.

  • Hinamatsuri

Hinamatsuri adalah upacara tradisional untuk anak perempuan yang dilaksanakan pada tanggal 3 Maret setiap tahun.  Keluarga Jepang yang mempunyai anak perempuan akan menghias rumahnya dengan boneka-boneka Hina yang sudah merupakan 1 set pada tanggal tersebut.

hina

Besar kecilnya boneka tersebut tergantung pada kemampuan masing-masing. Pada hari ini anak-anak perempuan mengenakan kimoni yang bagus, saling berkunjung dengan teman dekatnya, dan duduk di depan boneka Hina sambil berbincang dan menikmati hidangan dengan riang gembira.

  • Koinobori

Koinobori adalah pesta anak laki-laki. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 5 Mei. Seperti halnya pesta Hina, pada pesta Koinobori pun keluarga Jepang yang memiliki anak laki-laki memajang boneka yang gagah perkasa atau pahlawan di dalam rumah.

Diluar rumah didirikan bendera yang berbentuk ikan yang mempunyai ekor yang panjang.

koinobori

Bendera itu melambangkan ikan yang gagah perkasa dan dapat menaiki air terjun. Diharapkan supaya anak laki-laki itu  dapat hidup gagah berani seperti yang dilambangkan oleh ikan tersebut.

  • Tanabata

Tanabata adalah festival bintang. Hal ini merupakan cerita atau kisah romantik dari China. Festival ini terdapat pada tanggal 7 Juli. Menurut kepercayaan mereka pada malam tanggal 7 Juli, satu kali dalam 1 tahun, Ushika (bintang sapi) menyebrangi ama no gawa (rasi bima sakti) untuk bertemu dengan Orihime (bintang putri tenun).

tanabata

  • Bon Matsuri

Upacara ini di tujukan untuk arwahRoh para leluhur atau nenek moyang. Di daerah Kanto upacara ini dilaksanakan pada bulan Juli dan di daerah Kansai pada bulan Agustus.

Menurut kepercayaan mereka, pada bulan ini Roh lelulhur atau nenek moyang turun kembali ke bumi. mereka merayakan upacara penyambutan roh nenek moyang mereka kembali ke rumah.

obon2

Pada hari terakhir, mereka juga mengadakan upacara mengantar roh nenek moyang. Mereka menyalakan lampu atau obor dengan tujuan menerangi jalan pulang Roh. di Kyoto ada sebuah gunung yang biasa di pakai untuk membuat semacam api unggun dengan bentuk huruf kanji DAI yang berarti besar di atas gunung tersebut yang akan terlihat kemana-mana.

daimonji

Api yang ada di atas gunung itu disbut DAIMONJI. Pada hari terakhir masyarakat Kyoto beramai-ramai menuju DAIMONJI dengan membawa obor mengantar nenek moyang mereka untuk kembali ke alam baka.

bon-odori

Tarian yang mereka tarikan disebut BON ODORI. Tarian tersebut biasanya dilakukan bersama di luar rumah atau di ruangan besar diikuti dengan bunyi bedug.

  • Shichi Go San

Yang dimaksud sich-go-san disini adalah usia anak. Di Jepang setiap tanggal 15 November merupakan hari upacara anak-anak.

sichi

Para orang tua yang mempunyai anak yang berusia 7 tahun, 5 tahun dan 3 tahun pada hari ini pergi membawa anak-anak tersebut ke kuil-kuil untuk bersembahyang.

shichi-go-san-boy-kyoto-heian-cc-kamoda

Kiroro – Mirai E


Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai

Haha ga kureta takusan no yasashisa
Ai wo idaite ayumeto kurikaeshita
Ano toki wa mada osanakute imi nado shiranai
Sonna watashi no te wo nigiri
Isshoni ayundekita

Yume wa itsumo sora takaku aru kara
Todokanakute kowai ne dakedo oitsuzukeru no
Jibun no story dakara koso akirametakunai
Fuan ni naruto te wo nigiri
Isshoni ayundekita

Sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
Hanareta haha e sunao ni narezu

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai

Sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
Hanareta haha e sunao ni narezu

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai
Mirai e mukatte
Yukkuri to aruite yukou

English Version

Future

Look, do you see what’s at your feet?
This is the road you walk on
Look do you see what’s up ahead?
That is your future…

My mother showed me so much tenderness
Telling me again and again,to walk on with love
I was too young then to understand what she meant
But she still took my hand and walk together with me…

My dreams always seems so far away in the sky
I’m afraid i’ll never reach it, but i’ll keep chasing it
Since this is my story, i don’t want to give up
You held my hand when i was scared
and walked together with me

At times i hated that tenderness and let go,
not listening to my mom…

Look, do you see what’s at your feet?
This is the road you walk on
Look do you see what’s up ahead?
That is your future…

At times i hated that tenderness and let go,
not listening to my mom…

Look, do you see what’s at your feet?
This is the road you walk on
Look do you see what’s up ahead?
That is your future…

Look, do you see what’s at your feet?
This is the road you walk on
Look do you see what’s up ahead?
That is your future…

Turn to the future and let’s walk there one step at a time..

klik here to download this song.

Peralatan Oslap Mabim Ichi 2009


Barang Pribadi:

  1. Topi rimba.
  2. Ponco (Jas Hujan).
  3. Jaket tebal.
  4. Sandal jepit Swallow warna biru dengan ketentuan sebelah kiri di tulis ICHI dan sebelah kanan di tulis BANZAI dengan meggunakan huruf hiragana.
  5. Alat ibadah.
  6. Alat mandi.
  7. Senter.
  8. Alat makan plastik (sendok, garpu dan piring plastik).
  9. Makan pagi (sarapan roti atau nasi) makan siang (nasi, ayam goreng, tahu goreng dan pisang).
  10. Pakaian ganti (kaos hitam dan celana training tebal).
  11. Alat tulis.
  12. Obat-obatan pribadi.
  13. Air Mineral 1,5 Liter.
  14. Cemilan: Pocari Sweat 600ml, Energen (2), STMJ (2), Roti Rp. 1.ooo, Madurasa (2), Tolak angin (2), Choki-choki (3), Permen Jahe (10).
  15. Rabu Reeta (surat cinta) dan death note (surat benci) ditujukan hanya untuk panitia.
  16. Ada apresiasi seni per kelas.

Bawaan per kelompok:

  1. Tikar/karpet (1).
  2. Air minum 1,5 Liter.
  3. Nutrijell melon (1).
  4. Makanan ringan kiloan (1 kg di bagi 2 macam).

Dress code:

  • Baju putih UNPAD.
  • Sepatu Olahraga.
  • Name Tag.
  • Tas Carrier.


Oslap MABIM ICHI 2009 dilaksanakan pada tanggal 24 dan 25 Oktober 2009.

Sejarah Jepang


Dahulu kepulauan Jepang bersatu dengan daratan Asia, yang lambat laun menjadi kepulauan yang termasuk zona Samudra Pasifik. Laut yang terdapat di antara daratan Asia dengan kepulauan disebut Laut Jepang yang dalamnya hanya 200 meter. Samudra Pasifik berada di sebelah timur dan selatan Jepang dengan kedalaman antara 6000 – 10.000 meter. Oleh karena itu sering terjadi gempa bumi di Jepang.

Jepang merupakan negara kepulauan yang memiliki gunung-gunung yang tinggi, 3/4 dari kepulauan ini terdiri dari pegunungan. Salah satu gunung yang tertinggi adalah gunung Fuji dengan ketinggian 3.376 meter. Pada umumnya gunung-gunung yang tertinggi terdapat di pulau Honshu. Di antara gunung-gunung ini masih ada gunung merapi yang aktif diantaranya Aso, Mihara Asama, sedangkan gunung Fuji sudah tidak bekerja lagi.

fujuyama

Di samping terdiri dari pegunungan, kepulauan jepang memiliki banyak sungai. Sungai terpanjang pertama di jepang adalah Shinanogawa di daerah Niigata yang panjangnya 367 km.

shinanogawa

Sungai kedua terpanjang di Jepang adalah Tonegawa di daerah Kanto yang panjangnya 298 km. Pada umumnya sungai-sungai di Jepang pendek, karena pegunungannya membentang sampai ke pantai. Aliran sungai di Jepang di gunakan untuk pembangkit tenaga listrik, pertanian, industri, maupun air minum.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.